Di sela-sela mengurus rumah tangga, saya punya beberapa ekor entok (sejenis itik yang berbadan besar dan dagingnya di sini biasa diolah menjadi makanan ekstra pedas yakni pedesan. -saya tidak tahu apa nama Indonesia dari binatang ini) yang saya pelihara di rumah. Dan dari sedikit entok yang saya punya itu terdapat satu entok yang sedikit berbeda dari teman-temannya. Karena berbeda inilah menurut saya entok ini istimewa. Cantik bak putri. Dia betina dengan kepala kecil dan sedikit jambul yang menyembul di atasnya. Bulunya hitam berminyak. Saya tak tahu apakah entok ini juga di anggap cantik oleh teman-temannya atau malah dianggap cacat karena berbeda dari mereka. Yang pasti saya begitu menyayangi entok ini dan memperlakukannya sedikit berbeda dari teman-temannya. Semoga entok yang lain tidak merasa kalau selama ini sebagai majikan saya membedakan perlakuan terhadap mereka.
Tapi bagaimana pun, meski saya memeliharanya, saya tetap membiarkannya berkeliaran kemana pun dia suka, karena bagaimana pun menurut saya binatang memang tak perlu dikandangkan. Kodrat mereka adalah hidup di alam dengan segala resikonya. Walaupun memang, meski rumah saya tidak terletak di salah satu pusat kota tetap saja bukan berarti alam di sini benar-benar steril dari bahaya yang mengancam kelangsungan hidup mereka. Mobil dan motor yang berseliweran bak srigala, macan, singa dan beruang yang akan memangsa mereka di kala lengah. Tapi saya tak peduli, pokoknya saya tetap beranggapan bahwa binatang memang lebih baik dibiarkan bebas daripada harus dikandangkan. Kewajiban saya sebagai pemilik hanyalah memberi mereka tempat berteduh ketika ia tidur dan menyediakan makanan sewaktu di luar sana mereka tak mendapatkannya. Tidak lebih.
Dan karena bersikukuh dengan keyakinan saya yang binatang tak boleh dikandangkan itulah, sang putri berjambul itu pada suatu hari terlindas motor. Sekarat. Entah kenapa waktu itu, meski sang putri berjambul tak pernah terpisah dari kawanannya, perpanjangan tangan malaikat maut itu lebih memilih putri berjambul daripada lainnya untuk dilindas. Mungkin karena sebagaimana tabiat putri sejati dalam lakon Hans Christian Andersen yang kelewat gemulai (karenanya ketika diantara 7 tumpukan kasur yang ditidurinya ada kacang polong terselip, sang putri menjadi pegal-pegal. Bayangkan pegal-pegalnya bila ia ditiduri pangeran) sang putri berjambul itu tak tangkas ketika ada bahaya dalam bentuk pembalap kampung melintas. Continue reading ‘Putri Berjambul’
Yang Peduli