Hidup adalah Peziarahan

Pada hakikatnya hidup adalan suatu peziarahan semata, tak lebih. Pada awalnya kita tak tahu dari mana kita datang, untuk kemudian melangkah ke tujuan akhir yang juga tak berpasti. Datang dan menghadirkan diri untuk kemudian melanjutkan langkah yang entah kemana. Semuanya berselubung misteri. Tapi kadang misteri inilah yang pada akhirnya menyeret kita untuk meyakini bahwa dunia inilah akhir atau jawaban misteri itu. Kalau sudah begitu, akhirnya kita jadi malas untuk menguak dab mencari tahu jawaban dari misteri itu sendiri.

Padahal inti dari peziarahan adalah menghentikan kecenderungan untuk melekat kepada kebiasaan, rasa aman, stabilitas, dan keinginan yang keliru untuk menaklukkan ketidak tahuan yang maha luas.

Dan salah satu cara untuk lebih melatih hakikat peziarahan ini salah satunya adalah dengan Zen. Seseorang yang tengah duduk di zazen meniggalkan semua yang harta miliknya di luar zendo, dan duduk dalam ketenangan tanpa tahu apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Dengan rela, dia mau masuk ke relung pikiran dan lubuk hati yang terdalam.

Datang dan pergi, si burung air.
Tak meninggalkan jejak,
Juga tak memerlukan bimbingan.
–Dogen Zenji–

Banyak perselisihan dan penderitaan pribadi muncul karena kita tidak mau memandang hidup dan hubungan kita sebagai suatu peziarahan yang dirancang untuk membawa kita lebih dalam pada misteri tentang siapa diri kita sesungguhnya. Kita malah menuntut kontrol dan kosistensi. Kita bersikeras bahwa hidup mesti masuk akal. Saat hidup kita hancur, dan kita mengalami kehilangan, kekecewaan, kebingungan, dan bahaya, dan lalu pergi ke seorang psikolog untuk meminta pertolongan untuk membangun kembali pondasi yang telah luluh lantak, sambil tidak menyadari bahwa sebenarnya pondasi sejati yang tak bisa hancur sebenarnya terdapat pada relung kehidupan yang terdalam.

Berziarah berarti membiarkan serpihan kehidupan kita berserak di sekitar kehidupan kita saat runtuh, tidak malah bergegas-gegas membangun kembali hidup itu, mencari rasa aman buatan manusia. Berziarah berarti tidak terburu-buru menghakimi orang lain, atau menempatkan orang lain atau diri kita di kotak buatan kita sendiri, sehingga kita menjadi tahu cara menjalin hubungan yang benar.

Tidak ada yang nyaman atau dapat diramalkan dalam peziarahan. Di sini, kita memikul rasa ketidak nyamanan dengan senang hati. Kita juga tidak membawa banyak bawaan. Bawaan-bawaan lain seperti rasa benci, dendam, dan ingatan juga kita tinggalkan di belakang; karena jika tidak, semua itu akan memberatkan langkah kita. Melepas kebencian kita pada orang lain adalah tindakan yang tidak mudah, tetapi itulah yang dituntut dalam peziarahan. Dengan melakukannya, semua pintu akan terbuka, sehingga angin musim semi yang sejuk segar dapat berhembus masuk….

0 Tanggapan ke “Hidup adalah Peziarahan”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan




Renungan Hari Ini

All that we are is the result of what we have thought. The mind is everything. What we think we become. ~Zen quotes by Buddha~

Gudang

 

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930