Budhisme masuk ke China dari India pada abad ketiga Masehi. Dalam perkembangan jangka panjang di luar negeri asalnya, Budhisme telah mengalami suatu transformasi China yang membuatnya memiliki banyak kesamaan dengan Taoisme.
Budhisme dianggap oleh kalangan Barat sebagai ajaran yang lebih merupakan suatu agama ketimbang filsafat. Tetapi, orang hanya perlu menoleh kepada skolastisisme di abad pertengahan untuk mendapatkan betapa dua cara pikir yang secara hakiki berbeda ini bisa saja menjadi satu. Melihat kenyataan itu, Budhisme harus diperlakukan sebagai suatu ajaran filsafat juga agama, karena metafisikanya benar-benar sangat serupa dengan Skolastisisme (atau Taoisme dalam hal ini). Namun berbeda dengan ajaran Skolastik, kaum Budhis cenderung untuk mempercayai suatu fatalisme laissez-faire, terutama bila berkaitan dengan pengelompokkan antar kelas. Sebagai akibatnya, tak dibutuhkan waktu lama untuk melahirkan Budhisme menjadi berbagai bentuk aliran filsafat-agama. Mereka semua menyatakan dirinya sebagai penganut Budhisme, walaupun nyata sekali bahwa banyak diantara mereka yang sangat bertentangan satu sama lain. dan ini yang membedakan mereka dari agama manapun bahwa ditengah kesulitannya, kaum Budhis lebih memilih untuk menghancurkan diri sendiri ketimbang berbaku hantam antar sesama
Budhisme didirikan oleh Siddhartha Gautama yang dilahirkan di Nepal pada pertengahan abad keenam sebelum Masehi. Setelah melangsungkan pernikahan pada usia 16 tahun dan menjalani hidup yang mewah selama 13 tahun berikutnya, Ia meninggalkan semuanya dan berkelana ke India untuk menjadi pertapa gelandangan. Setelah menempuh bahaya dengan pendekatan puasa berlebihan, akhirnya Siddhartha Gautama memutuskan untuk menempuh jalan pencerahannya sendiri. Menurut legenda, akhirnya ia mencapai pencerahannya tersebut sekitar tahun 528 SM dan pada usia 35 tahun ia berhasil menjadi Budha. Pencerahan itu terjadi ketika ia sedang meditasi di bawah pohon atau Ara India Timur (Ficus Religiosa).
Jelas bahwa Budhisme memberikan tekanan besar pada meditasi, yang memungkinkan bagi seseorang untuk mendapatkan keheningan rohaniah dan pengambilan jarak sehingga bisa membebaskannya dari delusi dan kontradiksi hidup yang terdapat dalam dunia keseharian. Segala macam tetek bengek hidup sehari-hari itu tak ada bedanya dengan awan yang menutupi matahari: hanya dengan menyingkirkan mendung tersebut melalui disiplin spiritual barulah kita menjadi insaf akan pancaran kebenaran.
Budhisme China sangat dipengaruhi oleh Taoisme, yang memang punya pengaruh yang sangat kuat di China pada saat masuknya Budhisme di sana. Sebaliknya, di kemudian hari Budhisme memberikan pengaruhnya dalam perkembangan Confucianisme pada abad ke-11. Neo-Confucianisme ini menyerap pandangan metafisika dari Budhisme, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Confucius sendiri, walau tampaknya bisa mengisi kesenjangan yang terdapat antara ajaran-ajaran tersebut bagi para pengikutnya.
Bila melihat hadirnya sinar mentari
Darimana datangnya diri ini
Seribu kelahiran takkan cukup tuk menjawab
Jikalau masih ragu akan Dhamma
Kala menatap sirnanya cahya lembayung
Kemanakah engkau akan pergi
Semusim ratap tangis takkan berkesudahan
Jikalau masih ragu akan Dhamma
Hello, met kenal ya… =)
Menurut saya kutipan ini tidaklah tepat menggambarkan Buddhisme:
“Melihat kenyataan itu, Budhisme harus diperlakukan sebagai suatu ajaran filsafat juga agama, karena metafisikanya benar-benar sangat serupa dengan Skolastisisme (atau Taoisme dalam hal ini). Namun berbeda dengan ajaran Skolastik, kaum Budhis cenderung untuk mempercayai suatu fatalisme laissez-faire, terutama bila berkaitan dengan pengelompokkan antar kelas.”
Ajaran Buddha justru menolak ide fatalisme (yang sebelumnya didoktrinkan oleh kaum brahmana di India dengan konsep sistem kastanya).
http://dhammacitta.org/artikel/spiritful-drizzle/bentangan-cakrawala-dukkha
Selamat memetik manfaat dari Buddha Dhamma.. ^^,
salam,