Suatu Saat yang Jernih

Saya punya satu cerita inspirasional ya begitu saya sukai tentang seorang perempuan, Miro Lisa Clark namanya, yang berlatih Zen secara rutin. Seiring waktu akhirnya Zen mampu mengubah sudut pandangnya tentang hidup, tentang penyakitnya, tentang hari-harinya, tentang semuanya.

Dan sekarang, saya ingin membaginya kepada teman-teman semua di sini. Semoga anda menemukan seperti apa yang saya dapat…

Suatu Saat yang Jernih

Di titik tertentu dalam latihan zazen-ku, bunuh diri tidak lagi menjadi pilihan. Di ulang tahun ke 40, aku merasa telah menyia-nyiakan separuh masa hidupku. Mengapa tidak menyingkirkan pilihan untuk menghentikan peran tidak peduliku dalam urusan masa kini dan masa nanti? Walaupun demikian, pada saat itu mengabaikan pilihan bunuh diri yang memang rasional masih terlampau menakutkan. Secara bertahap, konsep itu menguap. Meskipun begitu, adalah keajaiban bahwa aku tidak meninggalkan dunia waktu itu.

Terkadang rasa sakit mendahului atau merupakan intisari dari saat yang jernih dalam latihan Zen. Titik balik saya terjadi setelah rasa sakit fisik, saat secara tidak sengaja, saya mendatangi sesshin dan menuju dokusan*.

Pneumonia –yang tentunya tidak akan begitu serius jika paru-paruku tidak penuh flek. Dari nafasku saja, kelihatannya aku tidak mungkin sembuh. Bernapas merupakan siksaan. Suatu titik putih membantuku bertahan. Citranya lebih dalam daripada yang kulihat. Keheningan yang intens menguatkanku melawan deraan batuk hebat yang serasa akan meledakkan rusukku dan membuat setiap tarikan nafasku amat sakit. Kejutan pertama : Mengapa aku berusaha begitu keras untuk tidak menyerah? Kejutan kedua : Mengapa guru Zen-ku, yang merupakan teman sekaligus orang asing yang mendengarkan sesuatu yang sepribadi ini, mau membantuku?

Kata-katanya membuat terang. “Titik putih itu pastilah kehidupan,” ia berkata.

Suatu embusan pemahaman yang baru dan lebih murni. Titik putih itu mulai luluh dan memudar seiring kesembuhanku dalam delapan atau sembilan minggu berikutnya.

Apakah guruku itu menyelamatkan hidupku? Tidak dari pneumonia, walaupun kata-kata dan perhatiannya memang merupakan obat. Tapi, sungguh menarik! Betapa hidup bisa menjadi koan baru! Sebuah hadiah dimana permulaan yang benar, momen pencerahan meletup tepat di depan mata Anda–tidak perlu di gali dari lapis-lapis ingatan masa lalu.

Tetapi, pergeseran kesadaran seperti itu tidak selamanya dicapai melalui rasa sakit. Misalnya, beberapa tahun kemudian: “momen” kejayaan–apa lagi yang bisa saya katakan tentang itu? Saat bangun pada waktu fajar, segala bentuk kelihatan berliang dan tak teraba. Suatu “lingkar sinar yang penuh” mewujud menjadi entah apa: cahaya yang ringan menyebar menembus kesadaran dari mulai subuh, sepanjang hari kerja hingga zazen malam. Sebuah hadiah sesegar napas baru. Ia selalu ada bagiku, dalam wujud berkas cahaya. Tetapi, jika aku mencoba memperpanjang momen itu, menahannya, mengamati perasaan, visi, dan keheningan, cahaya itu akan mengeras seperti fosil tak bernyawa. Lebih baik mengosongkan diri, menyadari bahwa setiap kedalaman seperti itu secara subtil mengubah semua kesadaran mulai dari sekarang…

Mulai dari sinilah, kehidupan Miro mengalami titik balik baru. Itu tidak lalu berarti bahwa ia tidak lagi memiliki masalah, konflik dan perjuangan, serta masa-masa kesepian, tetapi “lingkar sinar yang penuh” yang ia temukan terus menemani, membimbing, mendorong, dan memberikan konteks yang lebih luas baginya untuk memahami pengalamannya.

Ket:
*dokusan adalah suatu pertemuan dengan guru Zen.

1 Tanggapan ke “Suatu Saat yang Jernih”


  1. 1 sahid[dot]info April 11, 2009 pukul 11:46 am

    wah pikiranku ikut jernih neh…ahaha..salam kenal ya


Tinggalkan Balasan




Renungan Hari Ini

All that we are is the result of what we have thought. The mind is everything. What we think we become. ~Zen quotes by Buddha~

Gudang

 

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930