Arsip untuk Juni, 2009

Membungkuk

Membungkuk adalah latihan yang sangat serius. Anda mesti siap untuk membungkuk, bahkan pada saat terakhir anda. Walaupun mustahil untuk membersihkan diri dari keinginan egosentris kita, kita mesti melakukannya. Hakikat sejati kita menginginkan kita melakukannya.
(Suzuki-roshi, Zen Mind, Beginner’s Mind)

Ini sebenarnya sebuah pekerjaan mudah dalam teori tapi begitu sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih lagi ada beberapa ajaran keagamaan yang begitu keras melarang umatnya untuk membungkuk pada sesuatu seperti berhala. Ajaran agama itu hanya memperbolehkan para penganutnya untuk membungkuk pada Tuhan dan rasulnya, lain tidak.

Maka dari itu, membungkuk tentu saja menjadi persoalan tersendiri bagi orang-orang dengan agama tertentu, padahal dengan membungkuk kita begitu banyak bisa mengambil pelajaran. Membungkuk pada apa pun. Pada siapa pun. Pada musuh kita ketika kita akan memulai sebuah pertarungan, pada istri kita ketika kita berada ditengah-tengah pertengkaran hebat, pada binatang, pada orang-orang yang berpapasan dengan kita, pada apa pun, pada siapa pun.

Lihatlah betapa basar manfaat yang kita dapat hanya dengan membungkuk. Kita ambil satu contoh kecil. Ketika kita sedang menghadapi sebuah pertengkaran hebat dengan suami kita atau dengan istri kita, dan ditengah-tengah pertengkaran yang memuncak itu cobalah rehat sebentar dan kemudian membungkuk. Lihat apa yang terjadi berikutnya? Keajaiban besar apa yang kemudian menyusul? Lanjutkan membaca ‘Membungkuk’

Cermin

1
Sejak berekonsiliasi dengan cermin dua minggu yang lalu kini ia punya hobi baru; berdandan. Betapa. Betapa dulu ia begitu membenci cermin, atau lebih tepatnya membenci bayangan wajahnya sendiri yang terpantul di cermin. Ia selalu merasa ada yang salah dengan wajahnya, dengan hidungnya, dengan matanya, dengan mulutnya, dengan segala macam organ yang tertempel di wajahnya. Terlebih lagi dengan cara orang-orang memandang wajahnya.

Setiap kali ia bercermin ia selalu mengutuki wajahnya. Wajah dari seorang keturunan Tionghoa tapi konon menurut orang-orang, dan bahkan ayahnya sendiri bilang bahwa ia tak mirip sama sekali dengan wajah-wajah lain yang juga sama-sama punya darah keturunan mengalir di nadinya. Ya, meski tak sekental ibunya, ia mewarisi darah Tionghoa juga, tapi anehnya (atau salahnya) ia sama sekali tak memiliki ciri-ciri menonjol yang bisa dijadikan identitas bahwa ia warga keturunan seperti Salim, seperti Budi, seperti Melan, bahkan seperti Ko Liong pemilik toko kelontong di pinggir jalan itu. Satu-satunya modal yang ia punya hanyalah warna kulit. Ia punya warna kulit yang seterang teman-temannya sesama warga keturunan. Sayang, seperti halnya vodka yang tak lengkap tanpa sampanye, warna kulit saja tak cukup untuk membuatnya merasa diakui sebagai warga keturunan. Lanjutkan membaca ‘Cermin’

Kinhin; Sebuah Meditasi Berjalan

Dalam dunia Zen disamping dikenal meditasi duduk (duduk zazen) terdapat pula meditasi lainnya yaitu meditasi berjalan yang disebut Kinhin.

Dalam Kinhin kita melakukannya dengan cara berjalan perlahan, satu langkah demi satu langkah, tangan berpaut ke belakang, punggung tegak, mata melihat ke bawah, memperhatikan telapak kaki kita dan pernapasan kita. Kita memperhatikan setiap langkah yang kita ambil. Hanya itu saja. Sederhana dan mudah. Lanjutkan membaca ‘Kinhin; Sebuah Meditasi Berjalan’


Renungan Hari Ini

All that we are is the result of what we have thought. The mind is everything. What we think we become. ~Zen quotes by Buddha~

Gudang

 

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930