1
Sejak berekonsiliasi dengan cermin dua minggu yang lalu kini ia punya hobi baru; berdandan. Betapa. Betapa dulu ia begitu membenci cermin, atau lebih tepatnya membenci bayangan wajahnya sendiri yang terpantul di cermin. Ia selalu merasa ada yang salah dengan wajahnya, dengan hidungnya, dengan matanya, dengan mulutnya, dengan segala macam organ yang tertempel di wajahnya. Terlebih lagi dengan cara orang-orang memandang wajahnya.
Setiap kali ia bercermin ia selalu mengutuki wajahnya. Wajah dari seorang keturunan Tionghoa tapi konon menurut orang-orang, dan bahkan ayahnya sendiri bilang bahwa ia tak mirip sama sekali dengan wajah-wajah lain yang juga sama-sama punya darah keturunan mengalir di nadinya. Ya, meski tak sekental ibunya, ia mewarisi darah Tionghoa juga, tapi anehnya (atau salahnya) ia sama sekali tak memiliki ciri-ciri menonjol yang bisa dijadikan identitas bahwa ia warga keturunan seperti Salim, seperti Budi, seperti Melan, bahkan seperti Ko Liong pemilik toko kelontong di pinggir jalan itu. Satu-satunya modal yang ia punya hanyalah warna kulit. Ia punya warna kulit yang seterang teman-temannya sesama warga keturunan. Sayang, seperti halnya vodka yang tak lengkap tanpa sampanye, warna kulit saja tak cukup untuk membuatnya merasa diakui sebagai warga keturunan. Lanjutkan membaca ‘Cermin’
Yang Peduli