1
Sejak berekonsiliasi dengan cermin dua minggu yang lalu kini ia punya hobi baru; berdandan. Betapa. Betapa dulu ia begitu membenci cermin, atau lebih tepatnya membenci bayangan wajahnya sendiri yang terpantul di cermin. Ia selalu merasa ada yang salah dengan wajahnya, dengan hidungnya, dengan matanya, dengan mulutnya, dengan segala macam organ yang tertempel di wajahnya. Terlebih lagi dengan cara orang-orang memandang wajahnya.
Setiap kali ia bercermin ia selalu mengutuki wajahnya. Wajah dari seorang keturunan Tionghoa tapi konon menurut orang-orang, dan bahkan ayahnya sendiri bilang bahwa ia tak mirip sama sekali dengan wajah-wajah lain yang juga sama-sama punya darah keturunan mengalir di nadinya. Ya, meski tak sekental ibunya, ia mewarisi darah Tionghoa juga, tapi anehnya (atau salahnya) ia sama sekali tak memiliki ciri-ciri menonjol yang bisa dijadikan identitas bahwa ia warga keturunan seperti Salim, seperti Budi, seperti Melan, bahkan seperti Ko Liong pemilik toko kelontong di pinggir jalan itu. Satu-satunya modal yang ia punya hanyalah warna kulit. Ia punya warna kulit yang seterang teman-temannya sesama warga keturunan. Sayang, seperti halnya vodka yang tak lengkap tanpa sampanye, warna kulit saja tak cukup untuk membuatnya merasa diakui sebagai warga keturunan.
Semasa kecil sebenarnya ia senang dengan wajahnya yang konon tak mirip itu. Sebab dengan bermodalkan itu ia mampu berbaur dengan siapa pun. Ia bisa bergaul dengan Dewi tapi juga sekaligus akrab dengan Lingling. Ia merasa bangga dengan dirinya seperti bunglon yang mungkin juga bangga dengan kulitnya.
Ketika menginjak remaja, keberuntungan itu masih tetap menguntitnya. Mei 2008 meletus kerusuhan dimana-mana. Dan yang ikut jadi korban adalah salah satunya orang-orang keturunan seperti neneknya dan bahkan ibunya. Mereka semua kocar-kacir menyelamatkan diri dari buruan orang-orang beringas seolah-olah orang-orang seperti nenek dan ibunya adalah makhluk najis yang wajib dimusnahkan. Tapi tidak untuk dirinya. Meski ia punya darah itu toh guratan wajahnya sama sekali tak membuat orang-orang beringas itu menyadari keberadaannya.
Ketika toko sepeda neneknya yang menjadi satu-satunya sumber periuk nasi keluarga dijarah pun ia sama sekali diacuhkan para penjarah itu meski ia berada di tempat untuk menyelamatkan neneknya yang histeris. Ia sedih, tapi meski sedikit tetap menyisakan rasa bangga. Bangga karena setidaknya yang membuat sang nenek bisa cepat dievakuasi adalah atas peran dirinya, peran wajahnya yang tak mirip itu.
Tapi betapa. Betapa seperti mata uang, rasa bangga itu tak bernilai tetap. Ketika ia mulai dewasa rasa bangga itu pelan-pelan menyusut hingga kemudian hilang sama sekali dari kehidupannya. Orang-orang mulai meragukan eksistensinya. Dari desas-desus yang ia dengar, wajahnya yang tak mirip ibunya itu mulai jadi masalah. Ia menjadi manusia pertengahan, manusia indis yang tak diakui di mana-mana. Tak diakui sebagai Tionghoa tapi sekaligus tak mendapat tempat sebagai warga pribumi. “Jangan-jangan dia hanya anak pungut. Mungkin ibunya yang sekarang itu menemukannya di tong sampah ketika masih di Cirebon. Mungkin juga ia dibuang oleh orang tuanya karena dia adalah anak dari hasil hubungan gelap,” begitulah desas-desus yang kerap ia dengar.
Menyakitkan, tentu saja. Terlebih gara-gara desas-desus itu lambat laun ayahnya pun mulai meragukan keberadaannya. Ia mulai sering melihat kedua orang tuanya bertengkar gara-gara dirinya. Sang ayah mulai curiga jangan-jangan istrinya telah berselingkuh dengan orang lain hingga anak yang keluar pun tak mirip dirinya.
Dulu sebenarnya ia ingin tak ikut pusing dengan semuanya. Tapi rasa sakit itu meskipun sedikit lambat-laun mulai mengoreng. Dari yang sedikit itulah membuatnya tak betah lagi tinggal di rumah. Sebenarnya di hati kecilnya ingin ia tetap tinggal, merawat neneknya yang sakit, merawat kebun sawitnya yang sebentar lagi bisa ia panen. Tapi, rasa sakit yang sedikit itulah yang kemudian membuatnya tak tahan dan memilih pergi. Ia ingin tahan. Ingin tapi tak bisa, begitu katanya.
2
Tapi sejak ia bertemu gadis itu, paradigma dirinya dalam memandang cermin mulai berubah. Ia mulai menyukai cermin. Ia ingin berlama-lama memandang wajahnya yang terpantul di cermin. Gadis itu bilang bahwa ia eksotik. Ia punya daya sihir yang tak ditemukannya pada laki-laki mana pun. Mata itu, katanya, mata yang membuatnya mampu tertunduk berjam-jam menekuri lantai.
Sejak saat itulah ia pun berekonsiliasi dengan cermin dan punya hobi baru; berdandan. Ia pake minyak wangi, deodorant dan minyak rambut. Sebenarnya ini lucu. Betapa pun ia tahu bahwa bau minyak wangi dan deodorant tak terpantul di cermin ia tetap menggunakannya ketika ingin bercermin. Ia ingin cermin tahu bahwa tidak hanya wajahnya, tubuhnya pun mengeluarkan bau harum. Dan cermin harus tahu itu.
Ya cermin harus tahu itu…
………………………….
Cerpen tak karuan ini dibuat untuk mengenang 2 tahun meninggalnya nenek tercinta.
0 Tanggapan ke “Cermin”