Halaman Arsip 2

Doa Gembala

Tatkala dalam suatu perjalanan Nabi Musa melihat seorang gembala yang sedang berseru kepada Tuhan: Ya Tuhan, yang Mahakuasa atas segala yang berkuasa. Dimanakah engkau berada? Biarlah aku mengabdi-Mu, akan kujahitkan terompah-Mu, akan aku sisirkan rambut-Mu. Biarkan aku yang mencucikan pakaian-Mu dan membunuhi kutu-kutu di kepala-Mu. Akan kubuatkan susu buat Kau, O Tuhan. Akan kusembah Engkau supaya aku dapat mencium tangan-Mu dan kubelai kedua kaki-Mu yang mungil. Akan kusapukan kamar tidur-Mu bila waktu tidur-Mu sudah tiba….’ Lanjutkan membaca ‘Doa Gembala’

Membungkuk

Membungkuk adalah latihan yang sangat serius. Anda mesti siap untuk membungkuk, bahkan pada saat terakhir anda. Walaupun mustahil untuk membersihkan diri dari keinginan egosentris kita, kita mesti melakukannya. Hakikat sejati kita menginginkan kita melakukannya.
(Suzuki-roshi, Zen Mind, Beginner’s Mind)

Ini sebenarnya sebuah pekerjaan mudah dalam teori tapi begitu sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih lagi ada beberapa ajaran keagamaan yang begitu keras melarang umatnya untuk membungkuk pada sesuatu seperti berhala. Ajaran agama itu hanya memperbolehkan para penganutnya untuk membungkuk pada Tuhan dan rasulnya, lain tidak.

Maka dari itu, membungkuk tentu saja menjadi persoalan tersendiri bagi orang-orang dengan agama tertentu, padahal dengan membungkuk kita begitu banyak bisa mengambil pelajaran. Membungkuk pada apa pun. Pada siapa pun. Pada musuh kita ketika kita akan memulai sebuah pertarungan, pada istri kita ketika kita berada ditengah-tengah pertengkaran hebat, pada binatang, pada orang-orang yang berpapasan dengan kita, pada apa pun, pada siapa pun.

Lihatlah betapa basar manfaat yang kita dapat hanya dengan membungkuk. Kita ambil satu contoh kecil. Ketika kita sedang menghadapi sebuah pertengkaran hebat dengan suami kita atau dengan istri kita, dan ditengah-tengah pertengkaran yang memuncak itu cobalah rehat sebentar dan kemudian membungkuk. Lihat apa yang terjadi berikutnya? Keajaiban besar apa yang kemudian menyusul? Lanjutkan membaca ‘Membungkuk’

Cermin

1
Sejak berekonsiliasi dengan cermin dua minggu yang lalu kini ia punya hobi baru; berdandan. Betapa. Betapa dulu ia begitu membenci cermin, atau lebih tepatnya membenci bayangan wajahnya sendiri yang terpantul di cermin. Ia selalu merasa ada yang salah dengan wajahnya, dengan hidungnya, dengan matanya, dengan mulutnya, dengan segala macam organ yang tertempel di wajahnya. Terlebih lagi dengan cara orang-orang memandang wajahnya.

Setiap kali ia bercermin ia selalu mengutuki wajahnya. Wajah dari seorang keturunan Tionghoa tapi konon menurut orang-orang, dan bahkan ayahnya sendiri bilang bahwa ia tak mirip sama sekali dengan wajah-wajah lain yang juga sama-sama punya darah keturunan mengalir di nadinya. Ya, meski tak sekental ibunya, ia mewarisi darah Tionghoa juga, tapi anehnya (atau salahnya) ia sama sekali tak memiliki ciri-ciri menonjol yang bisa dijadikan identitas bahwa ia warga keturunan seperti Salim, seperti Budi, seperti Melan, bahkan seperti Ko Liong pemilik toko kelontong di pinggir jalan itu. Satu-satunya modal yang ia punya hanyalah warna kulit. Ia punya warna kulit yang seterang teman-temannya sesama warga keturunan. Sayang, seperti halnya vodka yang tak lengkap tanpa sampanye, warna kulit saja tak cukup untuk membuatnya merasa diakui sebagai warga keturunan. Lanjutkan membaca ‘Cermin’

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »


Renungan Hari Ini

All that we are is the result of what we have thought. The mind is everything. What we think we become. ~Zen quotes by Buddha~

Gudang

 

November 2009
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30